Cuaca dingin pasca hujan, segelas cokelat hangat hangat favorit, tempat paling populer di kampusku, teringat 8 tahun 4 bulan yang lalu.
“Kalau kamu sekolah di Jogja,
bapak yang antar kamu. Kalau kamu sekolah sambil mondok
di jember, ibu yang antar kamu”.
Kalimat dengan nada rendah penuh seni intonasi khas pria bijak yang senantiasa lekat di pikiranku. Kalimat dengan sejuta arti yang mengawali perjuanganku hingga kini, dan kupastikan sampai nanti.
Kata-kata itu masih terbayang oleh pikiranku. Selalu. Jelas, jelas sekali. Dilisankan dengan nada penuh kesejukan karena ingin menyejukkanku. Diutarakan dengan penuh keikhlasan sebagai gerbang masa depanku. Di-nada-kan dengan seni intonasi karena ingin menenangkanku. Diucapkan penuh harap karena kepedulian akan kesuksesanku.
Kalimat dengan nada rendah penuh seni intonasi khas pria bijak yang senantiasa lekat di pikiranku. Kalimat dengan sejuta arti yang mengawali perjuanganku hingga kini, dan kupastikan sampai nanti.
Kata-kata itu masih terbayang oleh pikiranku. Selalu. Jelas, jelas sekali. Dilisankan dengan nada penuh kesejukan karena ingin menyejukkanku. Diutarakan dengan penuh keikhlasan sebagai gerbang masa depanku. Di-nada-kan dengan seni intonasi karena ingin menenangkanku. Diucapkan penuh harap karena kepedulian akan kesuksesanku.
Tapi seperti apapun kata itu diutarakan
tetap hanya 1 kata yang muncul diotakku untuk meresponnya; bingung. Bocah 11 tahun 3 bulan harus memilih pilihan besar. Dan
jelas, tidak ada pilihan yang menarik untukku, kala itu.