Selamat Datang, Welcome, Bienvenidos,Benvenuto, Bem-vindo, Willkommen, MarHaban, Hos geldiniz...

Kamis, 15 November 2012

Anak Bawang Anak Kampung (1)


Cuaca dingin pasca hujan, segelas cokelat hangat hangat favorit, tempat paling populer di kampusku, teringat 8 tahun 4 bulan yang lalu.

“Kalau kamu sekolah di Jogja, bapak yang antar kamu. Kalau kamu sekolah sambil mondok di jember, ibu yang antar kamu”.

Kalimat dengan nada rendah penuh seni intonasi khas pria bijak yang senantiasa lekat di pikiranku. Kalimat dengan sejuta arti yang mengawali perjuanganku hingga kini, dan kupastikan sampai nanti.

Kata-kata itu masih terbayang oleh pikiranku. Selalu. Jelas, jelas sekali. Dilisankan dengan nada penuh kesejukan karena ingin menyejukkanku. Diutarakan dengan penuh keikhlasan sebagai gerbang masa depanku. Di-nada-kan dengan seni intonasi karena ingin menenangkanku. Diucapkan penuh harap karena kepedulian akan kesuksesanku.

Tapi seperti apapun kata itu diutarakan tetap hanya 1 kata yang muncul diotakku untuk meresponnya; bingung. Bocah 11 tahun 3 bulan harus memilih pilihan besar. Dan jelas, tidak ada pilihan yang menarik untukku, kala itu.

Menggagas Format Pendidikan Ideal

Pendidikan, telah menjadi konsensus bersama, disepakati sebagai faktor paling dominan dalam upaya perbaikan taraf hidup manusia (pembangunan). Telah menjadi rahasia publik jika pendidikan adalah salah satu aktor utama dalam proses panjang pembangunan. Memisahkan pendidikan dan pembangunan laiknya memisahkan bilah gunting atas dan bawah yang justru dapat saling meniadakan.

Perdebatan tentang pendidikan yang akan memacu pembangunan atau pembangunan yang akan memacu pendidikan kian meredup karena bukti di lapangan menunjukkan hal saling bertolak belakang dan menjelaskan tidak jelasnya dominasi diantara keduanya. Penyebaran sekolah formal di Amerika dan Jerman terjadi sebelum terjadinya pembangunan ekonomi modern. Di beberapa negara lain, jumlah sekolah formal meningkat drastis mengikuti kemajuan pembangunan ekonomi, misalnya Romania (1880-1910), Filipina (1900-1920), Thailand (1920-1940) dan Indonesia setelah perang kemerdekaan (Abdullah, 2006).

Jumat, 30 Desember 2011

Hiduplah Diary Digital

Tak kurang dari 6 bulan “diary digital” ini tak terisi, buku harian ini tak terurus. Dengan segala alasan, pemilik tak lagi terbuka dengan buku hariannya sendiri. Namun akumulasi kegerahan timbul setelah penulis merasa kesulitan mengapresiasikan ide, pemikiran, kritikan, pun singgungan ke dalam media yang mudah, murah dan dapat dipublikasikan alias dibaca oleh publik. Kegerahan yang terakumulasi membuat penulis kembali ke dunia yang sudah lama tertinggalkan jika tidak ingin disebut ditinggalkan.

Tak pelak, diary digital ini hanyalah akan menjadi penyalur hasrat singgungan jika penulis merasa ingin menyinggung, krtitikan saat penulis ingin mengkritik, pun apaoun yang sifatnya berasal dari subjektivitas penulis. Namun sebagai insan yang terididik, rasanya sulit untuk memastikan segala singgungan, kritikan, pun tulisan apapun yang tercantum di diary digital ini tanpa dasar. 

Namun apapun itu, tulisan ini tak lebih hanyalah refleksi dari keinginan penulis memperkaya diri akan pemikiran dengan cara menulis. Semoga kegerahan ini terus terjaga sehingga sang diary digital tak lagi tertinggal.

Antara status guru besar dan profesionalitas dosen. Adakah trade off?

Ketika bertitel “profesor”, seorang dosen bukan hanya memiliki skill dan performa mengajar yang prima, namun ia juga dituntut memiliki integritas tinggi dalam mengabdi kepada negara melalui kemampuannya akademisnya. Memang tidak mudah membagi waktu antara kesibukannya sebagai pemilik titel profesor sebagai implikasi dari kemampuan akademis yang hebat yang pasti memiliki kegiatan berjubel, dengan tugas asli sebagai dosen, yaitu membagi ilmunya kepada mahasiswa.

Namun, tak jarang kegiatan yang tidak bisa dibilang sedikit untuk orang awam yang dihadapi profesor justru membuat sang pemilik titel guru besar justru melupakan esensi awal dari tugasnya sebagai tutor dalam perkuliahan. Kesibukan (atau keinginan menjadi sibuk) justru membuat dosen bertitel profeor jarang memasuki kelas/kuliah, dan mendelegasikan tugasnya sebagai dosen kepada asistennya yang sudah bisa dipastikan titelnya beberapa tingkat dibawah sang guru besar, karena tidak mungkin seorang profesor sudi menjadi asisten profesor yang lain.