Selamat Datang, Welcome, Bienvenidos,Benvenuto, Bem-vindo, Willkommen, MarHaban, Hos geldiniz...

Selasa, 11 Juni 2013

Negara Desa-Tertinggal

Desaku yang kucinta, pujaan hatiku
Tempat ayah dan bunda, dan handai taulanku
Tak mudah kulupakan, tak mudah bercerai
Selalu kurindukan, Desaku yang permai
Kita tentu tidak asing dengan syair lagu di atas. Syair  karya Ibu Soed tersebut merupakan syair yang sering kita nyanyikan ketika di taman kanak-kanak atau kala masih berseragam merah-putih.
Lagu bertajuk desaku tersebut seolah menggambarkan desa merupakan suatu tempat yang tenang,damai, jauh dari kebisingan kota. Kehidupan yang sarat makna kekeluargaan membuatnya (desa-red) tak mudah tercerai berai. Berbeda dengan individualitas yang semakin menyeruak di kota.



Selang waktu berganti, tampaknya keadaan desa seperti yang tersirat dalam lagu desaku di atas perlu dipertanyakan. Perdesaan sekarang terkesan hanya sekedar tempat berkeluh kesah. Tempat kembali jika telah jenuh dengan hiruk pikuk kota. Desa tak lagi menjadi tempat yang “tak mudah kulupakan”.  Apa pasal? Desa tak lagi menjadi tempat yang menarik untuk mencari nafkah!

Pada masa lebaran, dapat ditebak hampir semua media (cetak maupun elektronik) akan mencatat sebuah fenomena: migrasi dari desa ke kota. Arus balik akan dipenuhi oleh para pendatang yang ter-iming kedatangan sanak saudara yang mudik membawa harta benda hasil merantau di kota. Arus migrasi desa-kota ini menyebabkan kota semakin penuh sesak.

Migrasi dari desa ke kota tak lepas dari kajian ilmu ekonomi. Todaro menjelaskan, salah satu yang menyebabkan adanya migrasi desa-kota adalah perbedaan upah. Penduduk akan bermigrasi ke kota jika upah yang dharapkan di kota lebih tinggi daripada upah aktual di desa. Dalam kondisi nyata, migrasi desa-kota juga disebabkan karena infrastruktur di kota jauh lebih memadai daripada di desa.
Migrasi desa-kota secara terus menerus menyebabkan penduduk perkotaan lebih tinggi daripada perdesaan. Badan Pusat Statistik memproyeksikan, pada tahun 2025 presentase jumlah penduduk Indonesia yang tinggal di kota adalah sebesar 68 persen. Untuk beberapa provinsi, terutama di Jawa dan Bali, persentasenya bahkan lebih tinggi dari Indonesia secara total. Tingkat urbanisasi (persentase penduduk perkotaan) di empat provinsi di Jawa pada tahun 2025 sudah di atas 80 persen.

Jika ditilik lebih mendalam, tingginya arus migrasi desa-kota ini merupakan ironi. Migrasi jenis ini justru tumbuh subur di lingkungan otonomi daerah, yang berarti peran daerah menjadi semakin besar dalam pemerintahan, kemandirian daerah untuk menciptakan peluang-peluang ekonomi pun diharapkan semakin mencuat.

Efek dari desentraliasasi fiskal dan otonomi daerah adalah meningkatnya transfer pemerintah pusat ke daerah sejak 2001. Pertama, desentralisasi menyebabkan  transfer  ke daerah meningkat dari 19 persen menjadi 24 persen di tahun 2001 (dan selanjutnya menjadi 31 persen pada tahun 2002). Kedua, peningkatan persentase transfer terjadi lagi di tahun 2006 dari 30 persen menjadi 33 persen (Bank Dunia, 2007). Arus migrasi dari desa ke kota terus tumbuh ditengah dana transfer untuk daerah cenderung meningkat.

Miris negeri agraris
Selain lagu desaku, yang paling menarik ketika kecil adalah slogan bahwa Indonesia adalah negeri agraris, tanahnya subur. Hal ini diperkuat Koes Plus dengan memberi gelar “tanah surga” kepada nusantara, saking suburnya negeri ini. Implikasinya, ketika diinstruksi menggambar pemandangan, hampir semua anak menggambar sawah dengan dua gunung dan matahari ditengahnya.

Kini konsep negara agraris perlu  dipertanyakan. Jika konsep agraris menyangkut produksi, maka Indonesia tidak lagi negeri agraris karena penopang perekonomian terbesar adalah sektor industri. Namun jika konsep negara agraris adalah sebagian besar penduduknya bermatapencaharian sebagai petani, mungkin masih dapat ditolerir. Hal ini disebabkan sektor pertanian merupakan sektor yang menyerap tenaga kerja tertinggi yakni sekitar 38,882,134 pada Agustus 2012 (BPS).

Terlepas dari perdebatan konsep negara agraris, Indonesia dengan segala sumber daya alam yang melimpah seharusnya mampu mandiri dalam hal pangan. Namun fakta membuktikan, beberapa waktu terakhir  panca indera warga Indonesia justru tak bisa lepas dari warta bahwa Indonesia merupakan negara importir barang-barang pertanian. Dari beras, bahkan singkong, hingga yang terakhir bawang. Berdasarkan kesepakatan pada Agustus 2012, Kamboja akan mendatangkan 1 juta ton beras ke Indonesia pada 2013 (Kompas, 1 November 2012). Untuk singkong, pada periode 2000-2011, rata-rata impor singkong sebesar 146.055 ton per tahun (Kompas, 11 Desember 2012). Sedangkan bawang, Indonesia akan mengimpor sebanyak 134.600 ton (Kompas, 14 Maret 2013).

Miris. Indonesia dengan segala spesifikasi bawaan (baca: SDA) yang besar bahkan tidak mampu memenuhi kebutuhan pangannya sendiri. Dengan keadaan sektor pertanian yang kacau, tak heran jika arus migrasi dari desa ke kota semakin deras. Orang akan lebih tertarik berkecimpung di sektor non-pertanian karena hasilnya lebih besar. Jika terus begini, tak heran jika nanti Indonesia akan semakin bergantung pada impor produk pertanian.

Dalam hal ketimpangan desa-kota yang menyebabkan migrasi, Todaro memberikan solusi berupa pembangunan desa secara terpadu sehingga gap desa-kota mengecil. Tak pelak, pembangunan sektor pertanian, hingga infrastruktur desa yang membantu pengembangan merupakan agenda mendesak.

Sepertinya perlu ada revisi besar di pameo dan lagu yang diajarkan untuk anak-anak zaman sekarang. Atau kita ambil langkah sebaliknya, mengembalikan kejayaan masa lampau. Mengembalikan peran sektor tradisional sebagai penopang melesatnya sektor industri. Ini juga sebagai upaya mengembalikan kepercayaan, bahwa desaku yang kucinta masih seperti sedia kala. Juga membuktikan pada dunia, bahwa Indonesia masih gemah ripah loh jinawi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar