Selamat Datang, Welcome, Bienvenidos,Benvenuto, Bem-vindo, Willkommen, MarHaban, Hos geldiniz...

Minggu, 10 Maret 2013

Tentang Nasionalisme dan Keterbatasan Para Pembatas



Nasionalisme. KBBI mengartikan nasionalisme sebagai (1) paham (ajaran) untuk mencintai  bangsa  dan  negara  sendiri;  politik  untuk  membela  pemerintahan  sendiri; sifat kenasionalan; (2) kesadaran keanggotaan dalam suatu bangsa yang potensial atau aktual bersama-sama mencapai,  mempertahankan,  dan  mengabadikan  identitas,  integritas,  kemakmuran,  dan kekuatan bangsa itu; semangat kebangsaan.

Ada beberapa kata kunci yang bisa kita ambil dari definisi nasionalisme menurut KBBI tersebut : mempertahankan,  dan  mengabadikan  identitas,  integritas,  kemakmuran,  dan kekuatan bangsa semangat kebangsaan. Dan jika memilih salah satu dari sekian kata -penting- berkaitan dengan nasionalisme tadi, saya akan memilih: kemakmuran.

Tanpa membuka KBBI pun semua orang akan mengetahui apa yang dimaksud dengan kemakmuran. Kemakmuran berkaitan dengan kesejahteraan. Dalam teori ekonomi pembangunan, kesejahteraan atau kemakmuran pada awalnya diidentikkan dengan masalah ekonomi. Negara dengan tingkat pendapatan perkapita tinggi dianggap lebih sejahtera. Namun kini banyak pihak menyadari terdapat bias pada pengukuran kesejahteraan melalui ukuran GDP (Gross Domestic Product) Amartya Sen, Joseph Stiglitz dan Jean-Paul Fitousi dalam buku (yang berasal dari laporan penelitian) “Mengukur Kesejahteraan” menganggap GDP tidak mampu mengakomodir ukuran kesejahteraan masyarakat suatu negara. Oleh karena itu, muncullah ukuran kesejahteraan yang lebih kompleks, tidak hanya meliputi bidang ekonomi seperti Indeks Pembangunan Manusia (IPM).

Selasa, 20 November 2012

Tentang Aku dan Mimpi


Kampus tercinta, siang hari¸lab komputer, set fire to the rain (Adele), AC dingin

§  Suatu hari, aku akan akan pergi ke Barcelona. Membuktikan estetika kota seni itu. Sekaligus membuktikan apakah Lionel Messi benar-benar hebat seperti yang ditayangkan Trans 7 setiap minggu.

§  Suatu hari, aku akan pergi ke Paris. Membuktikan apa benar bonjour berarti selamat pagi, seperti yang dikatakan guru SMA ku.

§  Suatu hari aku akan membuat Ibu Bapakku menitikkan air mata sembari mencium hajar aswat, tempat paling berkesan bagi umat muslim.

§  Suatu hari aku akan bisa menikmati indahnya bawah laut raja ampat.

§  Suatu hari aku akan punya rumah sederhana (relatif) dengan taman yang rimbun.

§  Suatu hari aku akan punya.....................

§  Suatu hari aku ingin...............................

§  Suatu hari...............................................

Diary Bimbel (Part 1)


Setelah membaca catatan saudara Muhammad Nopriandana, saya tertarik untuk membagi kembali catatan ini. Inilah cerita kami 2 tahun lalu.....


Yeahh,..akhirnya kesampaian juga aku buat catatan...

setelah menghabiskan semangkuk mie rebus telur dan segelas es teh di tempat langganan langsung menuju warnet terdekat...Udah lama mau bikin catatan, sebelum amnesia
Saya akui diksi saya tidak bagus, tapi mau bagaimana lagi...


Seminggu yang lalu waktu di sela-sela kuliah, pikiran melayang ke masa-masa bimbel, ingat siapa ya


Sebelumnya saya ucapkan selamat kepada Hendy Aprillian Hidayat, dan Asmarani Sri Hartatiyang lolos SNMPTN...mantep lah
dimana Hendy sedang kuliah di UNDIP jurusan Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan dan Rani di UNS jurusan Hukum

 

Kamis, 15 November 2012

Anak Bawang Anak Kampung (1)


Cuaca dingin pasca hujan, segelas cokelat hangat hangat favorit, tempat paling populer di kampusku, teringat 8 tahun 4 bulan yang lalu.

“Kalau kamu sekolah di Jogja, bapak yang antar kamu. Kalau kamu sekolah sambil mondok di jember, ibu yang antar kamu”.

Kalimat dengan nada rendah penuh seni intonasi khas pria bijak yang senantiasa lekat di pikiranku. Kalimat dengan sejuta arti yang mengawali perjuanganku hingga kini, dan kupastikan sampai nanti.

Kata-kata itu masih terbayang oleh pikiranku. Selalu. Jelas, jelas sekali. Dilisankan dengan nada penuh kesejukan karena ingin menyejukkanku. Diutarakan dengan penuh keikhlasan sebagai gerbang masa depanku. Di-nada-kan dengan seni intonasi karena ingin menenangkanku. Diucapkan penuh harap karena kepedulian akan kesuksesanku.

Tapi seperti apapun kata itu diutarakan tetap hanya 1 kata yang muncul diotakku untuk meresponnya; bingung. Bocah 11 tahun 3 bulan harus memilih pilihan besar. Dan jelas, tidak ada pilihan yang menarik untukku, kala itu.